Wednesday, 27 December 2017

Side Quest #1

Segalanya Mereka


Sejak tragedi penyerangan di akhir Oktober 2010, dia mulai mendewasakan pola pikirnya. Tentang bagaimana mencapai titik ketenangan hidup, dimana tidak ada lagi beban menumpu dan waktu yang terbuang sia-sia.

Kegilaannya memuncak. Krisis kepribadian semakin membuncah. Hidupnya terombang-ambing. Ibarat juru kemudi, aku mengarahkannya sebaik mungkin. Hingga di penghujung tahun, kami terdampar di pulau tempatnya dilahirkan.

Memberi jarak pada semua alasan tempat dia menggantung harapan. Namun gelombang ketakutan perlahan mereda. Keadaan membaik. Hingga situasi yang begitu berbeda kembali memojokkannya hingga sudut tersempit, yang membuatnya sempat tenggelam dalam batas tipis realita dan imajinasi.

Bertaruh Dengan Takdir


Impian yang polos. Sebagian mengatakan hal yang muluk-muluk. Ditertawakan. Dicap gila. Dijadikan bahan gunjingan. Padahal hanya akhir yang baik yang ia pinta. Kenapa orang-orang itu memandangnya begitu rendah? Sejauh apa dunia menjatuhkan mereka?

Demi sebuah jawaban. Bertaruh dengan takdir ia lakukan. Dimana kemungkinan yang ada hanya bisa atau tidaknya ia mewujudkan impian itu. Lupa bahwa dia melawan dunia. Dunia yang sebagian besar penuh luka dan tangis air mata.

Dia kalah. Dia dikalahkan orang terdekatnya. Orang yang hatinya tidak mampu lagi tersentuh cinta. Mengecewakan. Sakit. Pengkhianatan lainnya yang perlu ia cicipi dengan penuh keterpaksaan. 

Perbincangan itu menjadi milik kami yang terlama. Yang biasanya singkat namun berkelanjutan. Dia merisaukan keterbatasan. Bukan ruang. Bukan materi. Tapi waktu. Waktu yang memangkas hidupnya perlahan, di saat yang sama tak terasa berlalu begitu saja.

Berdagang Dengan Waktu


"Aku membelinya dengan tenaga dan pikiran ku. Aku mendukungnya dengan materi yang aku punya. Aku juga menawarnya dengan waktu lainnya. Sebagai gantinya, aku bisa lebih lama bersama mereka dengan waktu terbaik dalam hidup ku."

Dia menetapkan batasan yang harus ia lampaui. Tengat yang harus ia capai. Dengan semua kondisi yang terus merintanginya. Jadi... Ku rasa ini semua tentang cintanya yang terlalu besar akan semua waktu yang ada.

Mampukah? Kerja keras, keyakinannya, itu hadiah yang nyata untuk saat ini. Balada hidupnya memberi ganti dari semua yang terbawa pergi. Aku masih dipercaya sebagai juru kemudi. Akan ku saksikan semua yang terjadi. Karena aku pun penasaran dengan hasil akhir dari cerita ini.